June 9, 2014

TKI itu rindu tanah air

Banyaknya korban kekerasan dan korban asusila yang di alami oleh para Tenaga kerja Indonesia ( TKI ) khusus nya para TKI yang bekerja di sektor rumah tangga, menunjukkan bahwa pemerintah dan para pengusaha jasa tenaga kerja Indonesia ( PJTKI )  belum optimal dalam memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap keselamatan para TKI. Sehingga trend yang muncul adalah perusahaan pengerah tenaga kerja hanya mengejar profit semata. Padahal kalau dikelola secara profesional, pengawasan berjalan dengan baik, pembinaan selama proses berlangsung (pra pemberangkatan hingga pemulangan TKI kembali ke Indonesia) di jalankan sesuai prosedur dapat meningkatkan kinerja TKI di luar negeri. Dengan kriteria kinerja TKI yang baik menjadi kontribusi positif bagi peningkatkan produktifitas negara tujuan. Harapan TKI memperoleh penghasilan yang layak pun akan memberi dampak positif bagi pembangunan di tanah air.

Terlepas dari pengelolaan TKI diluar negeri secara benar atau salah, terbukti bahwa TKI telah menjadi penyumbang devisa terbesar setelah minyak dan gas ( migas ) bagi bangsa Indonesia. Mereka mampu menggerakkan roda perekonomian kampung halaman. Para TKI mengirim upahnya untuk memperbaiki rumah di kampung halaman, membeli sawah, membantu
biaya pendidikan anggota keluarganya. TKI memberi nilai tambah bagi keluarganya. Tahun 2012 TKI menyumbang devisa bagi negara 82 triliun. Tahun ini ada 70.000 TKI di Malaysia yang melewati perusahaan pemasok tenaga kerja (outsourching”) dari sedikitnya 2,2 juta TKI. Yang tercatat hanya 1,2 juta TKI. Selebihnya ilegal, dan rawan pelanggaran hak asasi manusia.

Ternyata pengiriman tenega kerja ke luar negeri bila dikelola dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja. Meski di Malyasia dimana jumlah TKI terbanyak berada di sana masih sering musibah bagi TKI, kita juga perlu mengangkat jempol karena masih ada lokasi tujuan TKI yang positif bagi TKI. Pengelolaan tenaga kerja di luar negeri yang berhasil adalah Hongkong. Keterlibatan atau campur tangan pemerintah RI di Hongkong yang memberi pembekalan, perlindungan, perhatian terhadap tenaga kerja Indonesia berhasil mewujudkan mimpi warga negara Indonesia untuk mengumpulkan uang, pengalaman dan pengetahuan.

Bencana besar  yang menyebabkan buruknya SDM kita diluar negeri adalah masih adanya praktik tata kelola perusahaan dan pemerintahan yang tidak bersih. Seperti praktik korupsi, pungli, sogok, nepotisme. TKI atau buruh migran dapat dikurangi atau dihilangkan. Sesungguh nya para TKI merindukan tanah air Indonesia. Seandainya penduduk memiliki lahan garapan yang subur, tumbuh-tumbuhan yang tahan penyakit, air yang melimpah, harga hasil pertanian yang kompetitif, menguasai teknologi pertanian, maka urusan TKI atau buruh migran dapat dikurangi atau dihilangkan. Karena pada hakekat nya TKI mencintai tanah kelahiran dan  tumpah darah Indonesia.