January 7, 2011

Benarkah kesenian tradisional tidak mampu bersaing dengan hiburan modern.


Kesenian tradisional dari pulau jawa khususnya kesenian wayang kulit semakin lenyap di telan hiburan moderen seperti konser musik,drama,sinetron,film dan lain-lain.Benarkah kesenian tradisional tidak mampu bersaing dengan hiburan modern?.Memang tidak bisa kita pungkiri kenyataan ini bahwa kesenian tradisional/budaya lokal di Indonesia berangsur-angsur surut seiring dengan perkembangan yang begitu pesat di bidang tekhnologi informasi dan komunikasi di tambah lagi dengan perubahan pola hidup masyarakat zaman sekarang yang cenderung menginginkan hiburan modern. Bukan hanya kesenian tradisional wayang kulit saja, kesenian-kesenian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia juga mengalami hal yang sama dan ini menimbulkan pertanyaan dalam hati saya Benarkah kesenian tradisional tidak mampu bersaing dengan hiburan modern?


Di zaman sekarang pertunjukan wayang kulit maupun kesenian tradisional lain nya di indonesia seperti ketoprak, ludruk, wayang golek, wayang orang, lenong betawi, dll memang bisa di bilang jarang sekali dapat di tonton baik secara langsung maupun melalui layar kaca (TV). Kalo pun ada jumlah nya sangat kecil. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perubahan ini antara lain adalah pola hidup masyarakat kita lebih cenderung memilih kebudayaan baru yang kata nya lebih praktis di bandingkan seni dan budaya lokal.

Mungkin karena melihat perkembangan tontonan tradisional kurang di minati oleh masyarakat di zaman modern, maka para seniman dalam bidang nya masing-masing mengambil inisiatif untuk bisa lebih beradaptasi dengan zaman yang serba canggih dan modern. Sebagai contoh para dalang wayang kulit sekarang ini memadukan antara alat musik gamelan dengan alat musik modern seperti gitar, organ, drum, dan lain-lain atau dengan memberi efek lampu laser pada kelir (layar putih tempat pementasan wayang kulit). Kemudian pada bagian goro-goro dalam wayang kulit juga di kolaborasikan dengan para pelawak-pelawak terkenal maupun para artis ibu kota. Hal ini bertujuan supaya tontonan wayang kulit maupun kesenian tradisional dapat merangsang kembali gairah masyarakat untuk menonton, mencintai, melestarikan produk lokal dan mempertahankan warisan seni daerah.

Sekitar awal tahun 90-an di tempat saya ( Cilacap, Jawa Tengah) tontonan wayang kulit mudah sekali di jumpai, biasa nya dalam rangka hajatan atau dalam rangka ulang tahun desa maupun kecamatan di selenggarakan tontonan gratis wayang kulit. Penonton nya pun banyak sekali, apalagi bila dalang nya sudah terkenal seperti Ki Sugino siswo carito dari banyumas. Namun setelah 20 tahun berlalu, tontonan Seperti wayang Kulit maupun kesenian tradisional lain nya sudah sangat sulit di temukan. Apalagi dengan muncul nya dunia hiburan modern melalui layar kaca yang semakin hari semakin beraneka ragam. Padahal cerita atau lakon dalam wayang kulit juga mempunyai pesan-pesan moral untuk kita dan tidak kalah dengan pesan-pesan moral yang di sampaikan melalui film maupun sinetron

Apakah kesenian tradisional yang menjadi kebangga'an negara Indonesia sudah usang dan ketinggalan jaman sehingga tidak mendapat tempat lagi dalam kehidupan masyarakat kita?. Apakah seni dan budaya asing yang datang dari luar penyebab utama budaya lokal menjadi teringkir?

Apapun alasan nya, tugas kita sebagai rakyat Indonesia adalah mempertahankan dan melestarikan serta mencintai seni dan budaya tradisional agar tetap kokoh dan utuh sebagai pengharum nama bangsa.